Situasi Suriah: Hasakah Mulai Goyah?

Perkembangan medan tempur di Suriah timur laut memasuki fase baru setelah laporan menyebut pasukan suku Arab telah mencapai wilayah selatan Provinsi Hasakah. Pergerakan ini menandai eskalasi serius dalam konflik antara pasukan Damaskus yang didukung kekuatan suku dan Syrian Democratic Forces (SDF), sekaligus mempersempit ruang manuver kelompok Kurdi tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Pemerintah Republik Arab Suriah mengklaim Angkatan Darat Suriah berhasil memaksa SDF mundur dari sejumlah titik strategis di Provinsi Aleppo. Kota Deir Hafar, Maskanah, serta Pangkalan Udara Militer Al-Jarrah disebut telah dikuasai, membuka jalur menuju wilayah Raqqa dan pedalaman timur.

Kemajuan pasukan Damaskus berlanjut hingga Provinsi Raqqa. Kota Al-Thabqa dan bandara militernya dilaporkan telah direbut, disusul penguasaan Desa Dibs Afnan, Ladang Minyak Safyan, simpul strategis Al-Rasafa, Ladang Al-Thawra, hingga Jembatan Shuaib Al-Dhikr. Rangkaian wilayah ini membentuk koridor penting menuju Danau Efrat.

Penguasaan kawasan Al-Rasafa, termasuk benteng bersejarahnya dan tujuh desa di sekitarnya, memberi keuntungan simbolik dan strategis bagi Damaskus. Pasukan juga dilaporkan mencapai tepian Danau Assad, menandai perubahan signifikan garis kontrol di barat Sungai Efrat.

Di sisi lain, kota-kota dan desa seperti Ghanem Al-Ali, Al-Mansoura, Kamp Hajanah, serta sejumlah desa di pedesaan Raqqa turut jatuh ke tangan pasukan pemerintah. Rangkaian keberhasilan ini mempercepat runtuhnya pertahanan SDF di wilayah barat Efrat.

Angkatan Darat Suriah menyatakan posisi mereka kini hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Kota Raqqa. Otoritas militer bahkan mempublikasikan peta lokasi SDF, PKK, dan elemen bersenjata lain di kota tersebut, sembari meminta warga sipil menjauh dari titik-titik tersebut.

Wilayah barat Sungai Efrat pun diumumkan sebagai zona militer tertutup. Langkah ini menandakan kesiapan Damaskus untuk melanjutkan operasi skala besar, sekaligus memberi tekanan psikologis terhadap SDF dan para pendukungnya.

Meski demikian, militer Suriah menegaskan tidak akan menargetkan unsur SDF yang sedang mundur. Damaskus meminta SDF mematuhi komitmen mereka untuk menarik seluruh pasukan ke timur Sungai Efrat, menyebut kepatuhan sebagai satu-satunya jalan untuk meredakan eskalasi.

Di lapangan, kerja sama antara tentara reguler dan pasukan suku semakin terlihat. Di wilayah timur Deir Ezzour, pasukan gabungan ini dilaporkan menyerang pos-pos SDF, memaksa milisi tersebut mengosongkan sejumlah desa dan pos pemeriksaan.

Dukungan terbuka dari konfederasi suku Deir Ezzour memperkuat posisi Damaskus. Para pemimpin suku menegaskan penolakan mereka terhadap keberadaan kelompok bersenjata di luar kerangka negara Suriah, serta menyerukan intervensi langsung tentara untuk menguasai wilayah timur Efrat.

Dalam pernyataan bersama, suku-suku tersebut menyatakan kesiapan bekerja sama penuh dengan negara dan aparat resminya untuk mengeluarkan SDF dari wilayah yang selama ini mereka kuasai. Pernyataan ini memberi legitimasi sosial bagi operasi militer Damaskus.

Namun situasi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan mulus. Militer Suriah menuduh SDF melanggar kesepakatan dengan menyerang patroli tentara di dekat Maskanah, menewaskan dua prajurit dan melukai lainnya.

Serangan lanjutan juga dilaporkan terjadi di Dibs Afnan, di mana dua tentara Suriah tewas akibat serangan drone bunuh diri yang diklaim diluncurkan oleh SDF. Bentrokan balasan pun terjadi di wilayah tersebut.

Dalam konteks ini, Damaskus mengeluarkan peringatan keras kepada anggota SDF. Mereka yang ingin selamat diminta segera menyerahkan senjata, seiring perkembangan situasi yang disebut berlangsung sangat cepat.

Laporan lapangan menyebut ratusan anggota SDF telah menyerahkan diri kepada tentara Suriah. Sekitar 200 lainnya disebut diizinkan mundur dengan membawa senjata ringan, menandakan adanya kesepakatan lokal di beberapa titik.

Perkembangan ini berdampak langsung ke Provinsi Hasakah. Dengan pedesaan Deir Ezzour sebagian besar dikuasai pasukan suku, jalur pergerakan menuju selatan Hasakah terbuka lebar, memungkinkan tekanan militer dan sosial terhadap wilayah inti SDF di Jazira.

Sumber-sumber lokal juga melaporkan adanya gelombang pembelotan. Sebanyak 42 anggota SDF disebut membelot di Kota Tel Hamis, timur Hasakah, memperlihatkan rapuhnya loyalitas internal di tengah tekanan berlapis.

Di tengah eskalasi ini, muncul pula dimensi politik. Tokoh Kurdi regional, Masoud Barzani, menyambut dekret Presiden Suriah yang mengakui identitas Kurdi dan menjamin perlindungan hak-haknya, sebuah sinyal upaya Damaskus meredam ketegangan etnis.

Namun di lapangan, realitas militer bergerak lebih cepat daripada diplomasi. Keberadaan pasukan suku di selatan Hasakah menjadi indikator bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Deir Ezzour dan Raqqa.

Jika tren ini berlanjut, peta kendali di timur laut Suriah berpotensi berubah drastis. Hasakah, yang selama ini menjadi pusat administrasi SDF, kini menghadapi tekanan dari selatan dan timur.

Dengan negosiasi yang rapuh dan eskalasi yang terus meningkat, Suriah timur laut kembali berada di ambang fase konflik baru. Pergerakan pasukan suku hingga selatan Hasakah menandai bahwa pertarungan berikutnya bukan lagi soal desa terpencil, melainkan masa depan seluruh kawasan Jazira.

Share on Google Plus

About Redaksi

Orang hebat bukan yang tak pernah kalah, tapi yang selalu bangkit.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment